Batam.www.sempenanusantaranews.com. Dengan semangat keikhlasan dan kerendahan hati, empat belas kader Nahdlatul Ulama dari Tembesi Sagulung, Batam, bersiap menapaki perjalanan spiritual menuju Jombang, Jawa Timur. Mereka hadir dalam Muktamar NU ke-35 yang berlangsung pada 27-31 Agustus 2026 di Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Tambakberas, Jombang.
Bukan sebagai peserta dengan hak suara, rombongan ini datang dengan niat tulus beribadah. Takat Prasetyo, sosok yang dikenal rendah hati di kalangan kader, dengan tegas menyatakan, “Kelas ranting gak ada hak suara. Jadi di Jombang jadi relawan saja.”
Pernyataan ini bukan bentuk kekecewaan, melainkan cerminan dari pemahaman mendalam tentang makna pengabdian. Bagi Takat Prasetyo dan para kader Tembesi Sagulung, Muktamar NU bukan sekadar ajang perebutan posisi atau hak politik organisasi. Lebih dari itu, ini adalah momentum untuk mengabdi, belajar, dan memperkuat tali silaturahmi antar sesama warga NU dari berbagai penjuru tanah air.
Dengan semangat “selamat dan sukses” seperti tertulis dalam spanduk yang mereka bawa, keempat belas kader ini siap menjadi relawan. Mereka akan membantu kelancaran jalannya Muktamar, melayani para peserta, dan menyerap ilmu dari para kiai dan ulama yang hadir.
Perjalanan dari Batam ke Jombang bukan sekadar perpindahan geografis. Ini adalah perjalanan spiritual, dari ranting yang kecil menuju pusat kegiatan akbar NU. Meski tanpa hak suara, mereka membawa doa, dukungan, dan semangat juang untuk kemajuan Nahdlatul Ulama.
Sikap rendah hati Takat Prasetyo menjadi teladan bagi semua kader. Bahwa dalam organisasi NU, setiap posisi adalah amanah. Setiap peran, sekecil apapun, memiliki makna. Menjadi relawan di Muktamar adalah bentuk pengabdian yang tak kalah mulia dari posisi strategis manapun.
Semoga perjalanan 14 kader NU Tembesi Sagulung ini diberkahi Allah SWT. Semoga Muktamar NU ke-35 menghasilkan keputusan-keputusan terbaik untuk umat, agama, dan bangsa Indonesia. (nimrodsiahaan)











