Batam. sempenanusantaranews.com Saya menyampaikan apresiasi yang setinggi-tingginya kepada Dr. (HC) Capt. Marcellus Hakeng Jayawibawa, Pengamat Dunia Maritim, atas tulisan beliau di Kompas berjudul “Melindungi Pelaut di Antara Muatan dan Hujan Rudal Perang.” Tulisan tersebut bukan hanya menyajikan analisis yang tajam mengenai tantangan dunia pelayaran di tengah konflik global, tetapi juga berhasil menghadirkan perspektif kemanusiaan yang sering kali luput dari perhatian.
Di tengah derasnya pemberitaan tentang perang, jalur logistik, perdagangan internasional, dan dampak ekonomi, Dr. Marcellus mengingatkan kita bahwa di balik setiap kapal yang berlayar terdapat manusia-manusia yang mempertaruhkan nyawanya. Mereka bukan sekadar awak kapal yang mengangkut barang dari satu negara ke negara lain. Mereka adalah ayah, ibu, suami, istri, anak, dan tulang punggung keluarga yang setiap hari bekerja dengan harapan dapat kembali ke rumah dalam keadaan selamat.
Sebagai Ketua Pemuda Katolik Komisariat Daerah Kepulauan Riau, saya memandang tulisan ini sebagai suara nurani yang sangat penting. Kepulauan Riau adalah provinsi maritim yang kehidupannya tidak dapat dipisahkan dari laut. Kami memahami bahwa laut bukan hanya jalur perdagangan, tetapi juga ruang kehidupan, ruang pengabdian, dan ruang pengorbanan bagi jutaan pekerja maritim.
Sering kali dunia lebih sibuk menghitung jumlah kontainer yang terlambat, kerugian perdagangan, atau kenaikan harga komoditas akibat konflik. Namun, kita lupa menghitung kecemasan seorang istri yang menunggu suaminya pulang dari pelayaran, doa seorang anak yang berharap ayahnya kembali dengan selamat, atau kegelisahan orang tua yang setiap hari menantikan kabar dari putra-putrinya yang bekerja di lautan. Padahal, nilai sebuah kehidupan manusia tidak pernah dapat diukur dengan nilai muatan kapal atau besarnya keuntungan ekonomi.
Sebagai orang beriman, kita percaya bahwa setiap manusia diciptakan menurut gambar dan rupa Allah. Karena itu, martabat manusia harus selalu ditempatkan di atas kepentingan politik, ekonomi, maupun konflik bersenjata. Tidak ada alasan apa pun yang dapat membenarkan terancamnya keselamatan mereka yang sesungguhnya hanya menjalankan profesinya dengan jujur dan penuh tanggung jawab.
Yesus mengajarkan, “Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah.” (Matius 5:9). Sabda ini mengingatkan kita bahwa membangun perdamaian bukan hanya menghentikan peperangan, tetapi juga memastikan bahwa setiap kebijakan internasional tetap menghormati kehidupan manusia. Perdamaian sejati lahir ketika manusia tidak lagi dijadikan korban dari kepentingan yang lebih besar.
Tulisan Dr. (HC) Capt. Marcellus Hakeng Jayawibawa menunjukkan bahwa kepakaran yang sejati bukan hanya berbicara tentang data dan strategi, tetapi juga mampu menyentuh hati nurani. Inilah bentuk kepemimpinan intelektual yang patut diapresiasi, karena menghadirkan ilmu pengetahuan yang berpihak kepada kemanusiaan.
Atas nama Pemuda Katolik Komisariat Daerah Kepulauan Riau, saya mengajak seluruh elemen masyarakat untuk semakin menghargai jasa para pelaut Indonesia dan dunia. Mereka adalah penjaga denyut perdagangan global yang bekerja dalam sunyi, sering kali jauh dari sorotan, namun memikul risiko yang sangat besar demi memastikan kebutuhan masyarakat tetap terpenuhi.
Semoga para pemimpin dunia semakin mengedepankan dialog dan perdamaian daripada kekerasan. Sebab pada akhirnya, ukuran kemajuan sebuah peradaban bukan hanya terletak pada lancarnya arus perdagangan atau tingginya pertumbuhan ekonomi, melainkan pada keberhasilannya menjaga martabat, keselamatan, dan kehidupan setiap manusia.
Di balik setiap kapal yang mengarungi samudra, ada harapan yang sedang diperjuangkan. Di balik setiap muatan yang tiba di pelabuhan, ada doa-doa keluarga yang akhirnya terjawab. Jangan pernah melihat kapal hanya sebagai pengangkut barang, tetapi lihatlah manusia yang dengan keberanian dan pengorbanannya menjaga dunia tetap bergerak. Itulah wajah kemanusiaan yang harus kita lindungi bersama.
Semoga tulisan ini menjadi ungkapan kepedulian sekaligus ajakan untuk menempatkan martabat manusia sebagai nilai utama dalam setiap kebijakan dan dinamika dunia maritim.
Oleh: Nimrod Siahaan, S.Ak.
Ketua Pemuda Katolik Komisariat Daerah Kepulauan Riau







