Batam. sempenanusantaranews. Sebuah program kerja jangan buru-buru disebut berhasil hanya karena hasilnya sudah terlihat di permukaan. Jangan hanya melihat siapa yang sudah menerima manfaat. Tetapi lihat juga… Siapa yang belum tersentuh? Karena terkadang kita membuat sebuah program, lalu melihat perubahan mulai terjadi pada masyarakat menengah bahkan menengah ke atas. Kemudian kita berkata: “Program ini berhasil.” Padahal di bawah sana masih ada masyarakat miskin. Masih ada keluarga rentan. Masih ada mereka yang tidak memiliki akses. Masih ada orang-orang yang bahkan tidak tahu bahwa program tersebut ada.
Di sinilah kita perlu mengubah cara berpikir tentang keberhasilan sebuah program. Dalam teori pembangunan, keberhasilan tidak cukup dilihat hanya dari berapa besar output yang dihasilkan, tetapi juga dari siapa yang mendapatkan manfaat, bagaimana manfaat itu didistribusikan, dan apakah kelompok paling rentan ikut mengalami perubahan. Konsep ini sejalan dengan pendekatan equity atau keadilan distributif. Artinya, pembangunan bukan hanya bertanya: “Berapa banyak yang berhasil kita capai?” Tetapi juga bertanya:“Siapa yang mendapatkan hasilnya?”
Bahkan dalam pendekatan Capability Approach yang dikembangkan Amartya Sen, kesejahteraan tidak semata-mata diukur dari pendapatan atau fasilitas yang dimiliki seseorang. Yang jauh lebih penting adalah: apakah seseorang benar-benar memiliki kemampuan dan kesempatan untuk menjalani kehidupan yang mereka nilai berharga? Artinya, memberikan program yang sama kepada semua orang belum tentu menghasilkan kesempatan yang sama.
Orang yang sudah memiliki pendidikan, modal, jaringan, informasi dan akses teknologi mungkin jauh lebih cepat memanfaatkan sebuah program. Sementara masyarakat miskin dan rentan… yang mungkin tidak memiliki modal, tidak memiliki informasi, tidak memiliki koneksi, bahkan kesulitan memenuhi kebutuhan dasar, bisa saja justru tertinggal. Karena itu ada konsep penting dalam pembangunan: “Leave no one behind.” Jangan meninggalkan siapa pun.
Sebuah program seharusnya tidak hanya melihat kelompok yang paling mudah dijangkau. Justru kita harus memberikan perhatian lebih kepada kelompok yang paling sulit dijangkau. Karena kalau sebuah program hanya berhasil pada mereka yang memang sudah memiliki kemampuan untuk berkembang… maka kita sebenarnya belum menyelesaikan ketimpangan. Kita hanya mempercepat mereka yang sudah berada di depan. Inilah yang dalam evaluasi kebijakan sering disebut sebagai persoalan distribusi manfaat.
Angka rata-rata bisa terlihat bagus. Persentase capaian bisa terlihat tinggi. Tetapi angka rata-rata terkadang menyembunyikan mereka yang berada di bagian paling bawah. Misalnya, sebuah program dikatakan berhasil karena 80 persen penerima manfaat mengalami peningkatan. Pertanyaannya: Siapa 20 persen yang tidak berhasil itu? Kalau mereka adalah masyarakat miskin, penyandang kerentanan, masyarakat terpencil, atau kelompok yang paling membutuhkan… maka kita tidak boleh berhenti pada angka 80 persen.
Kita harus turun dan bertanya: Mengapa mereka belum mendapatkan manfaat? Karena pembangunan yang baik bukan hanya tentang membuat yang sudah kuat menjadi semakin kuat. Tetapi juga tentang memberikan kesempatan kepada mereka yang lemah untuk bangkit. Maka bagi saya, indikator keberhasilan sebuah program bukan hanya seberapa tinggi kita bisa naik, tetapi seberapa jauh kita mampu menarik mereka yang masih berada di bawah. Program yang benar-benar berhasil adalah program yang manfaatnya tidak berhenti di ruang-ruang masyarakat yang sudah mapan. Tetapi mampu menembus sampai ke rumah-rumah sederhana. Sampai kepada keluarga yang rentan. Sampai kepada mereka yang selama ini tidak memiliki suara. Sebab pada akhirnya keberhasilan pembangunan bukan ketika sebagian masyarakat sudah sejahtera. Keberhasilan pembangunan adalah ketika mereka yang paling tertinggal mulai memiliki kesempatan untuk mengejar ketertinggalannya.
Jangan hanya ukur keberhasilan dari berapa banyak yang sudah kita capai. Ukur juga dari berapa banyak yang sebelumnya tidak tersentuh, sekarang mulai terjangkau. Karena program yang hebat bukan program yang hanya menghasilkan angka yang indah dalam laporan. Program yang hebat adalah program yang mengubah kehidupan manusia—terutama mereka yang paling membutuhkan.
Dan kalau masih ada mereka yang tertinggal… jangan buru-buru mengatakan:“Program kita berhasil.” Katakanlah: “Kita sudah bergerak, tetapi pekerjaan kita belum selesai.” (nimrodsiahaan)











