Batam. sempenanusantaranews.com – Dalam politik, ada satu hal yang harus kita pahami: tidak ada yang benar-benar mustahil. Hari ini bisa menjadi kawan. Besok bisa berbeda jalan. Yang dahulu berseberangan, suatu saat bisa duduk bersama. Yang dahulu saling mengkritik, bisa saja kemudian membangun komunikasi. Dan pilihan politik yang hari ini terlihat mengejutkan, belum tentu merupakan sesuatu yang salah. Karena politik adalah ruang untuk memperjuangkan kepentingan masyarakat melalui proses, komunikasi, kompromi dan keputusan.
Tetapi ada satu hal yang tidak boleh berubah: niat untuk membangun kehidupan berbangsa yang lebih baik. Jangan sampai politik hanya menjadi pertarungan tentang siapa yang menang dan siapa yang kalah. Sebab setelah pemilu selesai, setelah jabatan diperoleh… setelah koalisi terbentuk… yang tetap harus kita pikirkan adalah rakyat.
Rakyat tidak terlalu membutuhkan para politisi untuk terus bertengkar. Rakyat membutuhkan harga kebutuhan yang terjangkau. Membutuhkan lapangan pekerjaan. Membutuhkan pendidikan yang baik. Membutuhkan pelayanan kesehatan. Membutuhkan keamanan. Membutuhkan pemerintah yang hadir ketika mereka menghadapi persoalan.
Karena itu, kalau dalam perjalanan politik terjadi perubahan sikap, perubahan koalisi, pertemuan antara tokoh-tokoh yang sebelumnya berbeda posisi, atau bahkan lahirnya sebuah kerja sama yang tidak pernah kita bayangkan sebelumnya… jangan langsung melihatnya hanya dari kacamata: “Siapa mendapatkan apa?” Tetapi mari bertanya lebih jauh: “Apa yang bisa dilakukan bersama untuk kepentingan bangsa?”
Inilah kedewasaan politik. Politik tidak harus membuat kita menjadi musuh selamanya hanya karena berbeda pilihan. Perbedaan pilihan adalah sesuatu yang wajar dalam demokrasi. Hari ini kita bisa berbeda pandangan. Tetapi besok kita tetap bisa duduk satu meja untuk mencari solusi.
Karena musuh kita yang sebenarnya bukanlah sesama anak bangsa yang berbeda pilihan politik. Musuh kita adalah kemiskinan. Ketidakadilan. Korupsi. Pengangguran. Kesenjangan.Pendidikan yang belum merata. Dan berbagai persoalan yang membuat masyarakat belum menikmati kehidupan yang layak.
Maka saya melihat politik seharusnya memiliki ruang yang luas untuk rekonsiliasi, kolaborasi dan persatuan. Tidak perlu ada kebencian yang diwariskan dari satu kontestasi politik ke kontestasi berikutnya. Karena politik itu dinamis. Konstelasi bisa berubah. Peta kekuatan bisa berubah. Kepemimpinan bisa berubah. Tetapi cita-cita membangun Indonesia harus tetap. Indonesia yang lebih adil. Indonesia yang lebih sejahtera. Indonesia yang lebih kuat. Indonesia yang mampu memberikan masa depan yang lebih baik kepada generasi berikutnya.
Jadi, ketika kita melihat sesuatu terjadi dalam dunia politik yang sebelumnya tidak pernah kita bayangkan… jangan buru-buru sinis. Jangan buru-buru mencaci. Jangan buru-buru menganggap semuanya sebagai pengkhianatan. Lihatlah prosesnya. Lihatlah tujuannya. Dan lihatlah dampaknya bagi masyarakat. Sebab dalam politik… yang tidak mungkin hari ini, bisa menjadi mungkin besok.
Tetapi kebebasan politik untuk berkompromi juga harus dibarengi dengan integritas, transparansi dan tanggung jawab kepada rakyat. Karena kompromi boleh. Koalisi boleh. Perbedaan boleh. Perubahan sikap politik pun bisa terjadi. Tetapi jangan sampai satu hal yang berubah adalah komitmen terhadap kepentingan rakyat.
Pada akhirnya, politik bukan tentang bagaimana kita mempertahankan permusuhan. Politik adalah tentang bagaimana perbedaan kepentingan bisa dipertemukan menjadi sebuah keputusan yang membawa bangsa ini maju.Boleh berbeda pilihan. Boleh berbeda jalan. Tetapi ketika kepentingan bangsa memanggil… kita harus mampu duduk bersama. Karena tujuan akhir politik bukan sekadar memenangkan kekuasaan. Tujuan akhirnya adalah menghadirkan kehidupan yang lebih baik bagi seluruh rakyat Indonesia. (nimrodsiahaan)











