BATAM — sempenanusantaranews.com- Warisan terbaik dalam kehidupan bukan semata-mata harta benda, tanah, atau bangunan, melainkan iman, karakter, hikmat, dan kehidupan yang menjadi berkat bagi generasi berikutnya. Pesan ini menjadi inti sharing firman dalam kegiatan Chapter Meeting Nagoya 2, Full Gospel Business Men’s Fellowship International (FGBMFI), Kamis, 22 Oktober 2026, bertempat di Hotel Asialink Pelita, Kota Batam.
Dalam kegiatan tersebut, Pdt. Johan Salko menyampaikan firman bertema “Ahli Waris”, yang mengajak peserta memahami warisan dosa, penebusan melalui Yesus Kristus, serta tanggung jawab mewariskan nilai-nilai kehidupan yang berkenan kepada Tuhan.
Mengacu pada Roma 5:12, Markus 7:21–22, dan Galatia 5:19–21, Pdt. Johan menjelaskan bahwa dosa telah masuk ke dalam dunia dan memengaruhi kehidupan manusia. Berbagai perbuatan yang lahir dari keinginan hati yang berdosa menjadi pengingat bahwa manusia membutuhkan keselamatan dan pembaruan hidup.
Namun, manusia tidak dibiarkan terbelenggu dalam dosa. Melalui pengorbanan Yesus Kristus, jalan penebusan telah dibukakan. Hal ini ditegaskan dalam 1 Petrus 1:18–19, yang mengingatkan bahwa manusia ditebus bukan dengan barang yang fana, melainkan dengan darah Kristus yang mahal. Sementara itu, 1 Petrus 2:24a menegaskan bahwa Kristus telah memikul dosa manusia di kayu salib.
Pesan tersebut mengajak setiap orang percaya untuk tidak berhenti pada kesadaran akan dosa, tetapi melangkah menuju pertobatan dan kehidupan yang diubahkan. Masa lalu bukanlah akhir dari perjalanan seseorang. Ketika seseorang mengalami pertobatan sejati, perubahan hidupnya dapat menjadi kesaksian yang menguatkan dan membawa harapan bagi orang lain.
Dalam materi yang sama, peserta juga diajak memahami bahwa warisan keluarga tidak hanya berkaitan dengan kekayaan materi. Orang tua memiliki tanggung jawab untuk mewariskan hikmat, rasa takut akan Tuhan, serta keteladanan iman kepada anak-anak dan generasi penerus.
Pesan tentang warisan iman ini semakin nyata melalui kesaksian Daniel Djauw, yang membagikan perjalanan pertobatannya dari kehidupan yang pernah terjerat narkoba dan perjudian. Soebarkat Pranoto juga membagikan pengalamannya dalam ketekunan berdoa dan mencari Tuhan. Sementara itu, Dr. Johanes Bagus Dharmawan, S.H., M.Kn., bersama istrinya, Dr. Ariana Her Vishnu Ditakristi, S.I.P., M.Th., bersaksi tentang pengalaman berserah kepada Yesus ketika keluarga mereka menghadapi situasi sulit pada masa pandemi COVID-19.
Contoh lainnya ditampilkan melalui keluarga Pdt. Johan Salko yang mewariskan tanah, bangunan, dan pelayanan kepada anak-anaknya, Pdp. Doreen Jessica Salko dan Raymond Togar Salko, untuk melanjutkan pelayanan di Sei-Guntung dan Batam.

Kegiatan Chapter Meeting Nagoya 2 ini berlangsung dengan dukungan petugas acara, yakni Paulus Andre sebagai pembawa acara (MC), Jacky pada bagian musik, dan Tommy pada bagian media. Firman Tuhan disampaikan oleh Pdt. Johan Salko.
Melalui pertemuan ini, peserta diajak kembali menyadari bahwa keberhasilan hidup tidak hanya diukur dari apa yang berhasil dikumpulkan, tetapi juga dari nilai-nilai yang ditanamkan dan kehidupan yang dapat diwariskan kepada sesama.
Warisan terbaik bukan sekadar meninggalkan harta, melainkan meninggalkan iman yang teguh, karakter yang benar, dan generasi penerus yang hidup takut akan Tuhan. Tuhan Yesus memberkati. (nimrodsiahaan)









